Rabu, 21 November 2018. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Halaqah Kebangsaan dengan tajuk “Menuju Indonesia Berkemajuan”. Acara berlangsung dari Rabu, 21 November hinga Kamis, 22 November 2018. Diawali dengan sambutan-sambutan yang diberikan oleh Ketua Panitia, yaitu Dr. Zuly Qodir (Sosiolog UMY) dan Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc (Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Internasional UMY). Halaqah Kebangsaan secara resmi dibuka oleh Agung Supriyanto, S.H selaku Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY. Jenderal (Purn.) Dr. H. Wiranto, S.H (Menko Polhukam) dihadirkan sebagai pembicara kunci pada acara Halaqah Kebangsaan ini.

Wiranto mengatakan bahwa untuk menuju Indonesia yang berkemajuan, ada satu masalah bangsa yang sangat strategis, yaitu melupakan tentang sejarah bangsa. Jika melihat kebelakang, banyak tokoh Muhammadiyah yang terlibat dalam perjuangan untuk membentuk NKRI, beberapa founding father’s bangsa Indonesia dari tokoh Muhammadiyah tersebut adalah K.H Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH. Mansyur, Buya Hamka dan Mr. Kasman Singadimedjo yang menjadi tokoh pemersatu bangsa Indonsia. . “Banyak sekali tokoh-tokoh Muhammadiyah yang terlibat dalam proses pembentukan NKRI, kita harus berlajar dari situ,” tegas Wiranto

Dalam pemaparannya, Wiranto mengatakan bahwa Pasca kemerdekaaan Indonsia, muncul lah persoalan yaitu pantaskah negara islam didirikan? Para tokoh pemersatu bangsa ini berpikir keras bagaimana cara mengarahkan agar Indonesia tetap menjadi negara kesatuan, dan jika negara Islam didirikan maka Indonesia tidak akan bersatu. Begitupun dalam proses pembentukan 5 dasar negara, yaitu Pancasila. Banyak perdebatan yang mereka lalui, salah satunya saat muncul redaksi dalam pancasila yaitu “Dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Namun dengan kerendahan hati, toleransi serta kesadaran untuk mempersatukan bangsa yang tinggi, para tokoh pemersatu bangsa kita menghapuskan redaksi yang terdapat pada sila pertama Pancasila dan menggantikannya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Untuk memperkuat hal tersebut, kuncinya yang beliau-beliau selalu pegang teguh adalah kesatuan bangsa, dan kesatuan tersebut tidak datang dengan sendirinya, namun dibangun secara bersama-sama. Tiga Kunci tersebut adalah kesadaran, pengorbanan, dan toleransi. Tidak mungkin Indonesia maju tanpa adanya nilai-nilai tersebut dan tanpa adanya persatuan. Seperti warisan leluhur yang mengatakan bahwa “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Dan “rukun agawae santoso, congkrah agawe bubrah.”

 

 

 

Facebook Comments

Sharing is caring!